About Television

April 15, 2008

Dan beberapa teman bertanya kepada saya tentang acara televisi. Jujur saja, kosan saya termasuk kosan dengan listrik Senen-Kamis, karena seringkali mati nyala tanpa alasan. Tahu hal itu akan sangat beresiko pada resistensi alat elektronik, maka saya memutuskan untuk tidak memiliki tivi. Namun saya masih bisa sesekali mencuri nonton tivi dan nyampah di kamar beberapa teman, yang memiliki tivi dengan ukuran inch yang berlebihan plus layanan kabel pula. Kebahagiaan semu memang, namun ini beberapa buah pikiran saya tentang acara televisi…

Tanya wanita manapun saja, dari yang hobi judi, sering tahajud, atau wanita dengan karir gemilangpun…tanya mereka tentang infotaimen. Nanti akan terdengar berbagai alasan, dari yang tidak punya waktu nonton tivi, tak peduli, bahkan sampai alasan tidak punya tivi karena pecah saat bertengkar dengan suami. Apapun itu, namun sodorkan tepat dimuka mereka, tivi dan remotenya, tetapkan di chanel infotaimen. Saya juga seorang wanita, dan yang saya rasakan adalah tayangan tersebut sangat praktis, saya tidak akan keberatan meluangkan waktu sok sibuk saya untuk sekedar diam dan menyimak acara tersebut. Dengan tenang mendengarkan presenter yang kadang-kadang hadir dengan busana dan makeup yang terlalu full armour, disertai dengan intonasi nada yang sangat tidak casual, yang saya curiga mereka harus melewati semacam camp latihan yang sangat berat untuk mendapatkan esensi nada dan tekanan suara yang sama. Belasan infotaimen dengan judul berbeda beredar di layar kaca, setiaaaap harinya. Dan tebak apa? Mereka menyuguhkan berita yang sama. Walau dengan detail pemanis agar terlihat berbeda, seperti artis a potong poni. Sampai disini hati saya agak getir, setengah iri dan setengah lagi dengki tentu saja (hey, i’m just human, correct..i’m just a woman! hehehehe…!) ada kejadian dimana saya pernah berimprovisasi memotong poni saya sendiri, dan seperti yang bisa diduga, tentu saja prosesi itu gagal. Ditengah deretan cewek-cewek trendy berponi miring yang sangat happening pada saat itu, poni saya menjadi mencolok, kerena entah kenapa, alih-alih terlihat lebih manis, saya terlihat seperti seorang Yati Octavia di masa jayanya dengan sedikit sentuhan bayang-bayang Mia Audina. Walaupun keadaan saya sangat menarik karena potongan poni saya berpadu dengan wajah saya yang vintage (baca : muka kurang trendi), saya yakin saya akan lebih membuat banyak kontroversi dibanding artis a yang potong poni, dan yah memang terlihat tambah cantik. Namun lagi-lagi kembali ke pada kenyataan…karena saya bukan artis, dan saya tidak akan pernah berada di liputan layar infotaimen, sangat saya sayangkan, satu indonesia melewatkan momen untuk beramai-ramai mencela saya. Hehehe..!

Kita simpan infotaimen, beralih ke film kartun. Ini saya suka. Dan kartun menarik perhatian orang dari berbagai rentang usia. Ingat tontonan kartun tentang tikus dan kucing yang selalu berusaha saling menyakiti satu sama lain itu? Kita pelesetkan saja menjadi Tommi & Jeremi. Belum ngeh juga??? Keterlaluan boy…itu sempat happening di beberapa generasi, karena stuck dan terus saja ditayangkan. Seperti Nyobita yang ga pernah naik dari kelas 4 esde, dan Mragon Ball (keterusan kepeleset) yang terus menemani kita di Minggu pagi itu. Hehehe, intinya hingga kinipun si Tommi dan Jeremi masih ada di layar kaca. Disajikan sore hari saat anak-anak selesai sekolah dan muka mereka masih cemong-cemong karena bedak yang secara paksa diusapkan tanpa mengindahkan nilai estetika oleh suster atau ibu mereka sehabis mandi. Lepas dari fungsi televisi sebagai sumber informasi, dan hiburan, televisi mendatangkan masalah yang lumayan kompleks juga. Teman saya memiliki keponakan. Seorang gadis kecil yang saya tahu sangat manis, dan sangat memilih untuk digendong, khususnya pada teman laki-laki saya yang ganteng (good girl!). teman saya bercerita bahwa keponakan saya ini dilarang oleh ayah dan ibunya menonton acara tommi & Jeremi. Kenapa? Karena akhir-akhir ini kelakuan si gadis kecil jadi lumayan masokhis. Entah bagaimana caranya, dia meledakkan petasan di mulut burung peliharaan ibunya. Itu belum seberapa, dia juga menggencet kucing kakaknya dibalik pintu dengan tenaga smek don. Saya tidak tahu kelanjutan nasib kucing dan burung malang itu, namun saat ditanya kenapa dia menggencet Rudy Wowor? (itu nama kucing mereka-RED), si gadis kecil dengan tak bersalah menjawab, dia berharap melihat si Rudy menjadi tipis seperti kertas dan menjadi melayang-layang seperti kartun Tommi & Jeremi itu. Oh, wow…shit really happens…saya hilang kata-kata…

Setelah kartun dan infotaimen, jangan lupa sinetron. O my God, siapa yang tidak tahu sinetron? Ini berefek lebih luas. Fenomena sinetron remaja mulai meledak saat saya duduk di kelas dua SMA, saya masih lucu-lucunya tuh (yah, kira-kira 1000 tahun yang laulah, hehehe…yeah rite). Disini terjadi juga fenomena ABG tumpuk atau istilah ‘kebanyakan kaen’. Bagi yang belum paham, istilah ini lebih disodorkan kepada gaya busana remaja yang terlalu ceria, dengan detail aksesori dan tumpukan baju yang disatukan, hay, di televisi memang terlihat absah dan bagus. Namun kenyataannya melihat beberapa orang dengan gaya yang ingin serupa dan berjalan-jalan di mal…hmm…entahlah, saya hampir tidak bisa membedakan remaja-remaja tersebut, dan diakhiri rasa parno berlebihan takut digebuki atau apalah karena saya merasa diikuti, bagaimana tidak…kemana mata memandang kayanya dia lagi dia lagi, padahal teman saya meyakinkan itu adalah remaja berbeda, hanya saja gayanya hampir sama.

Lepas dari rasa kegeran saya yang sejuta hektar tersebut, saya mengerti gejolak hormon dan panutan tren hampir seperti kiblat saat saya seusia mereka. Mereka yang saat ini masih ‘kelebihan kaen’, saya yakin akan bertumbuh, dan saat mereka lebih dewasa sedikit akan ada waktunya lepas dari itu semua dan mulai mengenakan pakaian yang lebih nyaman sesuai pribadi masing-masing. Namun bagaimana efeknya, lagi-lagi terhadap adik kecil kita? Ini cerita teman dan ponakan saya yang lain lagi. Karena mama dan papanya bekerja, adik kecil itu ditipkan pada neneknya. Adik kecil ini seorang anak lelaki yang sehat dan bandel tentunya. Suatu hari dia membuat frustrasi neneknya entah apa yang dilakukannya kali ini. Neneknya menjadi esmosi dan marah, dia mengeluarkan kemarahannya dalam bentuk nasihat dengan nada tegas dan bumbu-bumbu ancaman, nanti akan dilaporkan pada ayah dan ibunya. Sebelum neneknya berbalik meninggalkan cucunya itu, tebak apa yang cucunya lakukan? Dia merosot ke lantai, mengambil posisi duduk diantara dua sujud seperti saat sedang sholat, menaikkan tangannya ke atas dalam posisi berdoa, dan dengan nada manja merengek berkata, “ Ya Allah, mengapa ini terjadi? Ampuni Ya Allah, mengapa nenek marah-marah padaku?”. Si nenek tentu sajaa setengah mau ketawa, setengahnya lagi merasa menyesal melihat cucunya sampai begitu. Hati neneknya tentu saja menjadi tidak tega dan semua berakhir bahagia. Namun untuk teman saya yang juga melihat kejadian itu, benar-benar tidak habis pikir bagaimana keponakannya menjadi drama queen seperti ini? Akting murahan itu terlihat lucu, namun sungguh tidak berkelas. Sayang sekali saat itu si adik kecil berhadapan hanya dengan neneknya, teman saya meyakinkan lain kali dia berhadapan langsung dengan keponakannya itu, buaya ga akan bisa dikadalin.

Itu beberapa contoh dari masalah pertelevisian kita. Belum lagi acara-acara keagaman yang entah ide siapa seorang pemabuk kuburannya akan banjir (??!@#), lalu kuis-kuis yang sangat menjual mimpi, acara ngetes pacar dengan wanita penggoda, tayangan sinetron dubingan yang special effectnya…yah pokonya jadi lebih menyenangkan nonton teletubbies saja, dan tak ketinggalan acara mencari idola baru yang melibatkan mama mereka dilengkapi dengan dramanya dan weardrobe mereka yang kadang-kadang tidak bertanggungjawab pada kenyamanan mata penontonnya….

Saya pribadi, tak akan menonton tivi lagi kecuali benar-benar perlu, atau saat benar-benar menganggur…saya tidak ingin mata saya menjadi biasa akan fenomena ini. Saya memilih untuk tidak menonton, daripada saya menumpulkan standar toleransi dan sense saya. Kedar kepercayaan saya pada berita televisi juga sudah tipis. Saya memilih membaca koran,buku, mendengar radio, atau browsing berita dari internet. Itu pilihan saya untuk tetap mengedukasi diri sendiri, saya memilih dan saya memutuskan input informasi yang ingin saya ketahui. Namun bagaimana dengan anak-anak remaja? Atau adik-adik kecil kita? Televisi masih menjadi media paling dekat, dan tidak dapat dipungkiri menjadi media informasi paling efektif. Saya memang bukan orang paling trendi, dan lebih memilih diam dirumah daripada bergaul kemana-mana, namun menjadi orang yang tidak tau informasi dan tren terupdate saat inipun tidak menghindari kenyataan bahwa saya tidak akan menulis tentang sesuatu yang tidak saya ketahui. Dan hal ini, terjadi begitu dekat dengan kita. Saya bertumbuh dan saya menyaksikan fenomena ini terus naik, bukannya meredam. Dan saat saya panik, pada siapakah saya akan menyalahkan? Dinasti Punjabhi? Remaja yang tidak selektif? Mama-mama yang mengeksploitasi anaknya? Atau tukang kredit tivi murah??? Lewat tulisan ini saya berbagi, dan saya sampaikan bahwa saya yakin kalian juga berfikir yang sama. Dan saat kedangkalan ini semakin dangkal, bagaimana kita menambalnya kembali?

Adalah rasa keprihatinan saya, dan ucapan belasungkawa saya sedalam-dalamnya untuk acara pertelevisian tanah air saat ini. Sisanya… tergantung kita.

So, where we should go from now??? You decide…

Hello world!

April 14, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.